Halaman 1
Yuk, Sambut Ramadhan dengan Hati Gembira!
# Yuk, Sambut Ramadhan dengan Hati Gembira! Assalamualaikum, Bunda-bunda salehah! Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga selalu dalam lindungan Allah dan dipenuhi semangat, ya. Tak terasa, bulan suci Ramadhan sudah semakin dekat. Rasanya baru kemarin kita merayakan Idul Fitri, eh sekarang sudah mau bertemu lagi dengan bulan penuh berkah ini. Gimana, sudah mulai tercium aroma Ramadhan di rumah? Atau justru masih pusing mikirin menu buka puasa dan sahur yang itu-itu saja? Hehehe. Nah, bicara soal Ramadhan yang kian menyapa, kira-kira perasaan apa yang paling dominan di hati Bunda sekarang? Gembira? Deg-degan? Atau campur aduk antara semangat dan sedikit rasa khawatir karena tumpukan pekerjaan rumah tangga yang rasanya tak akan ada habisnya? Jujur saja, semua perasaan itu valid kok. Kita manusia biasa, dengan segala kerumitan dan kesibukan yang tak ada bedanya. Tapi, pernahkah terbersit di benak kita, *kenapa ya, sebagian orang bisa menjalani Ramadhan dengan begitu khusyuk, tenang, dan seolah tanpa beban, sementara kita kadang merasa Ramadhan berlalu begitu saja dengan keletihan yang tiada tara?* --- ### Ramadhan, Tamu Istimewa Kita Coba bayangkan, Bunda. Jika ada seorang tamu yang sangat istimewa, yang sudah lama Bunda nantikan, bahkan tamu tersebut membawa banyak sekali hadiah dan kebaikan untuk keluarga Bunda, bagaimana persiapan yang akan Bunda lakukan? Pasti rumah dibersihkan sampai kinclong, kamar tidur tamu ditata rapi, menu hidangan disiapkan jauh-jauh hari dengan yang paling spesial, baju terbaik pun sudah disetrika. Pokoknya, kita akan berusaha menyambut tamu itu dengan *sebaik-baiknya* dan *sepenuh hati*, kan? Nah, Ramadhan itu persis seperti tamu istimewa itu, Bunda. Bahkan, jauh lebih istimewa dari sekadar tamu VIP mana
Halaman 2
pun. Ramadhan adalah bulan yang datang setahun sekali, membawa berjuta rahmat, maghfirah, ampunan, dan pahala yang dilipatgandakan. Pintu-pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu. Ini adalah *kesempatan emas* bagi kita untuk "mencuci diri," memperbaiki diri, dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Pertanyaannya, apakah kita sudah menyiapkan "rumah" kita, yaitu hati dan diri kita, untuk menyambutnya dengan semaksimal mungkin? Atau justru kita biarkan Ramadhan datang begitu saja, lalu berlalu dengan penyesalan karena tak sempat meraup keberkahannya? Memang, banyak di antara kita yang mungkin berpikir, "Ah, Ramadhan kan ya puasa aja, nanti juga datang sendiri." Atau, "Nanti aja deh persiapannya pas H-1, fokus sama kerjaan rumah dulu." Padahal, Bunda, persiapan ini bukan cuma soal fisik, lho. Bukan sekadar menimbun stok bahan makanan atau menyiapkan menu takjil untuk sebulan penuh. Bukan pula tentang membersihkan rumah secara fisik saja (meskipun itu juga penting!). Lebih dari itu, persiapan menjelang Ramadhan adalah tentang **menata hati dan mental kita**, agar ketika bulan suci itu tiba, kita sudah *siap total* untuk "panen pahala" tanpa terbebani hal-hal kecil yang sebenarnya bisa diatasi jauh-jauh hari. --- ### Bukan Sekadar Fisik, tapi Hati dan Pikiran Mari kita bedah lebih dalam. Kenapa persiapan hati dan mental ini *penting banget*? **Pertama, Agar Hati Kita Tenang dan Fokus Beribadah**.Bayangkan jika Ramadhan tiba, tapi hati kita masih dipenuhi dengan rasa dongkol terhadap tetangga sebelah, dendam pada saudara, atau kegelisahan karena masalah yang belum terselesaikan. Mana bisa kita khusyuk membaca Al-Qur'an? Mana bisa kita merasakan manisnya sujud dalam shalat tarawih? Hati yang kotor seperti wadah yang penuh lumpur; meski
Halaman 3
air hujan rahmat turun membasahi, tetap saja sulit untuk merasakan kesegarannya. Maka dari itu, menjelang Ramadhan ini, yuk kita mulai *membersihkan hati*. Ibarat membersihkan rumah sebelum tamu datang, kita perlu menyapu bersih debu-debu dosa, mengelap kaca-kaca kekesalan, dan menata ulang setiap sudut hati agar lapang dan siap menerima cahaya Ramadhan. Minta maaf kepada suami, anak-anak, orang tua, sahabat, atau siapa pun yang mungkin pernah kita sakiti, baik disengaja maupun tidak. Memaafkan orang lain, itu bukan untuk mereka, Bunda, tapi untuk kedamaian hati kita sendiri. Ketika hati kita bersih dan damai, barulah kita bisa *merasakan* kenikmatan ibadah dengan sepenuh jiwa. **Kedua, Untuk Menata Mental dan Pikiran Kita agar Siap Menjelajah Keberkahan**.Pernahkah Bunda merasa Ramadhan itu seperti *marathon*? Perlu stamina, strategi, dan mental yang kuat untuk bisa sampai garis finish dengan kemenangan. Jika kita tidak menyiapkan mental, bisa-bisa baru beberapa hari puasa, semangat sudah kendor, gampang marah, atau cepat lelah. Ujung-ujungnya, kita jadi melewatkan banyak kesempatan emas untuk beribadah dan meraup pahala. Persiapan mental ini bisa dimulai dengan *menetapkan niat* yang kuat. Apa sih yang ingin kita capai di Ramadhan kali ini? Apakah ingin khatam Al-Qur'an beberapa kali? Lebih rajin shalat tarawih berjamaah? Lebih banyak bersedekah? Atau, ingin memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama? Menentukan tujuan ini akan membantu kita tetap fokus dan termotivasi sepanjang bulan Ramadhan. Anggap saja seperti menyiapkan peta sebelum melakukan perjalanan jauh. Dengan peta itu, kita tahu arah, tahu tujuan, dan lebih siap menghadapi rintangan di jalan. Selain itu, menyiapkan mental juga berarti *mengelola ekspektasi*. Ramadhan memang bulan ibadah, tapi bukan