Aku ibu   Aku anak

Aku ibu Aku anak

Created by Anjar nilawati
Halaman 1
Mahkota Ibu: Perjalanan Tak Terduga

# Mahkota Ibu: Perjalanan Tak Terduga Detik itu tiba. Mungkin saat melihat dua garis di *test pack* yang gemetar di tangan. Atau saat mendengar detak jantung kecil yang begitu cepat dan kuat, mengisi ruang USG dengan melodi kehidupan. Mungkin pula saat melihat si kecil pertama kali, merah, mungil, dan begitu asing, namun entah bagaimana, terasa sudah sangat akrab. Sejak momen magis itu, sebuah mahkota tak kasat mata seolah diletakkan di kepala Anda. Mahkota seorang ibu. Sebuah penobatan yang mungkin tak pernah Anda duga akan seberat dan semenyenangkan ini. Buku ini ingin merangkul Anda, para perempuan hebat yang sedang atau pernah menyandang mahkota ini. Bukan sekadar mahkota emas berlian yang kinclong tanpa cela, melainkan mahkota yang kadang sedikit penyok di sana-sini, tergores oleh kuku-kuku mungil, atau bahkan basah oleh air mata, baik itu air mata haru, lelah, maupun tawa. Mari kita kupas tuntas perjalanan menakjubkan ini, yang terkadang membuat kita senyum sendiri, dan di lain waktu, ingin berteriak melampiaskan segalanya. ### Antara Mimpi dan Realita: Mahkota yang Nggak Selalu Kinclong Sebelum mahkota itu terpasang, barangkali kita punya gambaran *ideal* tentang menjadi ibu. Di benak, mungkin terbayang kita akan selalu tampil rapi dengan baju bersih, bayi yang anteng di pelukan, rumah yang selalu tertata, dan senyuman penuh kehangatan di setiap kesempatan. Media sosial seringkali memperkuat ilusi ini, menampilkan ibu-ibu yang seolah *sempurna*, dengan *meal prep* yang teratur, olahraga rutin, dan anak-anak yang selalu ceria. Kita membayangkan akan ada *glow* khusus, semacam aura keibuan yang memancar tiada henti. Lalu, realita menampar dengan lembut, atau kadang cukup keras. Bangun pagi dengan rambut acak-acakan, kemeja kena
Halaman 2
muntahan bayi atau noda bubur, lingkaran mata panda yang tak bisa disembunyikan, dan rasa kantuk yang tak kunjung terbayar. Si kecil yang sebelumnya anteng, tiba-tiba tantrum di tengah supermarket. Rencana kerja yang sudah rapi, buyar karena demam anak. Mahkota yang terbayang kinclong berkilauan, nyatanya terasa berat dan sedikit miring. Ada hari-hari ketika Anda bertanya, "Ini *beneran* jadi ibu, ya? Kok rasanya nggak seperti yang di film-film?" Jangan salah sangka, keajaiban dan kebahagiaan itu ada, sangat banyak! Pelukan hangat anak, tawa renyah mereka, kata "Mama" pertama yang meluluhkan hati, atau senyum saat mereka tidur pulas. Momen-momen itulah berlian di mahkota Anda. Namun, di antara berlian-berlian itu, ada juga bagian mahkota yang terbuat dari baja, ditempa oleh kurang tidur, kegelisahan, frustrasi, dan pengorbanan yang tak terlihat. Bagian yang *nggak selalu kinclong* ini adalah bagian yang paling jujur, yang justru membuat mahkota Anda unik dan kuat. Memahaminya adalah langkah pertama untuk menerima diri seutuhnya sebagai seorang ibu, dengan segala *tidak sempurnanya* yang justru indah. ### Dulu Aku Siapa? Ngulik Identitas Baru di Bawah Mahkota Ibu Sebelum menjadi seorang ibu, Anda adalah… Anda. Seorang perempuan dengan nama, cita-cita, hobi, karier, pergaulan, dan impian-impian yang mungkin tidak melibatkan popok atau jadwal menyusui. Mungkin Anda adalah seorang *traveler* yang spontan, seorang seniman yang bisa tenggelam dalam karyanya berjam-jam, seorang profesional yang berambisi, atau seorang pribadi yang sangat menghargai waktu luang untuk diri sendiri. Dunia berputar di sekitar Anda, dan Anda punya kendali penuh atasnya. Lalu, mahkota itu terpasang. Seketika, identitas Anda melebur, bertransformasi, atau bahkan terasa *hilang*. Dari "Ayu yang
Halaman 3
suka mendaki gunung", kini Anda lebih sering disebut "Ibunya Fajar". Dari "seorang desainer grafis andal", kini prioritas utama adalah menyiapkan bekal sekolah. Apakah Anda masih Ayu yang suka mendaki? Mungkin iya, tapi kapan terakhir kali Anda punya waktu luang untuk itu? Pertanyaan "Dulu aku siapa?" seringkali muncul di tengah malam hening, saat si kecil sudah terlelap, dan Anda menatap langit-langit, bertanya-tanya apakah diri Anda yang dulu masih ada di suatu tempat, menunggu untuk ditemukan kembali. Proses "mengulik" identitas baru ini adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan ibu. Ini bukan berarti Anda harus melupakan diri yang lama. Justru, ini tentang bagaimana Anda bisa mengintegrasikan semua fragmen diri Anda—yang dulu, yang sekarang, dan yang akan datang—menjadi sebuah mozaik yang utuh. Bagaimana Anda bisa tetap menjadi *perempuan dengan nama* sekaligus *ibu dari anak-anak Anda*. Ini butuh keberanian untuk menetapkan batasan, mencari waktu untuk diri sendiri (sekalipun itu hanya 15 menit untuk minum kopi sendirian), dan mengakui bahwa tidak apa-apa untuk merindukan diri yang dulu, sambil mencintai diri yang baru. Mahkota ibu memang berat, tapi bukan berarti ia harus menenggelamkan diri Anda yang sesungguhnya. Ia harusnya memperkaya, bukan menghilangkan. ### Kuat Bukan Berarti Nggak Boleh Nangis: Menemukan 'Mahkota' Asli dari Kejujuran Sejak kecil, kita sering melihat sosok ibu digambarkan sebagai pahlawan super. Tak kenal lelah, selalu tersenyum, dan sanggup mengatasi segala rintangan. Masyarakat seringkali menuntut seorang ibu untuk selalu kuat, selalu tabah, dan selalu siap sedia. Ekspektasi ini seringkali menekan, seolah-olah menangis atau menunjukkan kelemahan adalah sebuah kegagalan dalam peran keibuan. "Ayo dong, kan ibu harus kuat buat
Kembali ke daftar buku