Cermin Yang Datang Terlambat

Cermin Yang Datang Terlambat

Created by Jum'ah
Halaman 1
Pengantar: Bisikan Cermin yang Tersembunyi

Ada kalanya, dalam riuhnya alunan hidup berumah tangga, kita begitu tenggelam dalam irama kesibukan, rutinitas yang seolah tak berujung, dan daftar panjang "harus dilakukan" yang tak pernah usai. Kita berlari mengejar waktu, memburu mimpi, atau sekadar berusaha menjaga agar roda rumah tangga tetap berputar tanpa hambatan berarti. Di tengah semua itu, seringkali ada suara-suara lirih, bisikan-bisikan halus dari *cermin* kehidupan yang kita abaikan. Bisikan tentang kehadiran, tentang makna, tentang apa yang sesungguhnya berharga. Dan seperti yang sering terjadi, kesadaran itu seringkali datang terlambat, mengetuk pintu hati kita dengan sangat keras hanya setelah *sesuatu* telah tiada. Mungkin itu adalah kehilangan sosok terkasih—pasangan hidup, orang tua, atau anak—yang tiba-tiba pergi, menyisakan kekosongan yang menganga. Atau bisa jadi, itu adalah kehilangan yang lebih abstrak: hilangnya rasa cinta yang membara, pudarnya kebersamaan yang dulu hangat, atau lenyapnya kesempatan emas yang takkan pernah kembali. Apapun bentuk kehilangannya, dampaknya sama: sebuah guncangan hebat yang memaksa kita berhenti, menoleh ke belakang, dan akhirnya, *melihat* dengan jelas apa yang selama ini tersembunyi di balik kabut kebiasaan dan asumsi. Pernahkah Anda merasakan momen ketika segala aktivitas mendadak terasa hampa? Ketika tumpukan pekerjaan kantor, keranjang cucian, atau daftar belanjaan yang dulu begitu mendesak, kini terasa sepele dan tak berarti di hadapan kehampaan yang tiba-tiba melanda? Itulah *cermin* yang datang terlambat. Ia muncul bukan untuk menghukum, melainkan untuk menunjukkan bayangan diri kita yang sesungguhnya—bayangan yang mungkin selama ini terlalu samar, terlalu sibuk, atau terlalu acuh tak acuh. Di hadapan
Halaman 2
cermin ini, kita dipaksa melihat kembali setiap tawa yang mungkin kurang kita hargai, setiap sentuhan yang kita lewatkan, setiap kata "aku sayang kamu" yang tak sempat terucap, atau bahkan setiap argumen sepele yang kini terasa begitu tidak penting. Betapa seringnya kita berasumsi bahwa segala sesuatu akan selalu ada di tempatnya, seperti batu karang yang tak akan pernah goyah. Kita yakin ada "nanti" untuk mengatakan hal-hal penting, ada "besok" untuk menghabiskan waktu berkualitas, atau "tahun depan" untuk mewujudkan mimpi bersama. Keyakinan itu, meski memberi kita ketenangan semu, juga menjadi selimut tebal yang menutupi kebenaran rapuhnya kehidupan. Kita menunda, menunda, dan terus menunda, hingga tiba-tiba, waktu itu habis. Tiba-tiba, "nanti" menjadi "tidak akan pernah," dan "besok" berubah menjadi "kemarin." Kesadaran yang datang setelah kehilangan itu pahit, seumpama menyesap kopi tanpa gula di pagi hari yang dingin. Ada campuran sesal yang menusuk, rindu yang mengikis, dan kejelasan yang menyakitkan. Kita mulai melihat pola-pola yang dulu tak terdeteksi: betapa sering kita lebih memprioritaskan gawai daripada tatapan mata pasangan, betapa mudahnya kita terjebak dalam keluhan kecil daripada mensyukuri kebersamaan, atau betapa kita membiarkan kesibukan merenggut keintiman yang seharusnya menjadi pondasi. Ini bukan sekadar tentang *apa* yang hilang, melainkan tentang *siapa* kita di hadapan kehilangan itu. Kita melihat bagaimana prioritas kita bergeser tanpa disadari, bagaimana keheningan menjadi lebih nyaman daripada percakapan, dan bagaimana kehadiran fisik tak lagi berarti kehadiran jiwa. Namun, di balik kepahitan itu, ada pula anugerah. Cermin yang datang terlambat, meski menyakitkan, juga berfungsi sebagai guru terhebat. Ia memang datang terlambat untuk
Halaman 3
mengembalikan apa yang sudah pergi, tetapi tidak pernah terlambat untuk mengubah *kita* di masa kini dan masa depan. Ia menuntut kita untuk mempertanyakan ulang definisi "bahagia," "sukses," atau "cinta" yang selama ini kita pegang. Ia mengajak kita untuk merangkul kerapuhan, untuk berani jujur pada diri sendiri tentang penyesalan, dan yang terpenting, untuk belajar menghargai setiap *saat ini* seolah tak akan ada "nanti" lagi. Ia adalah pengingat bahwa hidup adalah rangkaian *sekarang* yang tak terulang, dan setiap orang yang hadir dalam hidup kita adalah hadiah yang patut dijaga dengan sepenuh hati, sebelum *cermin* itu datang dan menunjukkan apa yang telah kita lewatkan. ![Ilustrasi|size=70|align=center](https://cuanify.id/uploads/ebooks/6242/illustrations/illustration-20260206-223604-b57039.jpeg)









Ibu yang Menunggu Tanpa Suara

Di setiap sudut rumah itu, keheningan bukanlah sekadar absennya bunyi, melainkan sebuah kehadiran yang begitu nyata, merasuki setiap retakan dinding, setiap serat tirai yang tergantung lesu. Bukan heningnya pagi yang baru bangun, atau senyapnya malam yang terlelap. Ini adalah hening yang menyimpan gema, sebuah *diam* yang bercerita tentang suara-suara yang pernah mengisi, tawa yang pernah meledak, dan langkah-langkah kaki yang kini memilih jalan lain. Di rumah yang sepi ini, waktu terasa bergerak lebih lambat, seolah ikut menunggu, ikut menanti. Ibu duduk di kursi goyang kesayangannya, pandangannya menerawang jauh ke luar jendela. Bukan ke taman yang kini sedikit rimbun tanpa sentuhan teratur, melainkan ke arah jalanan, ke arah horizon, seolah ada jawaban yang akan muncul dari sana. Tangannya yang keriput perlahan mengusap sandaran kursi, merasakan lekukan kayu yang sudah ia kenal puluhan tahun. Di sana, di kursi itu, ia pernah
Kembali ke daftar buku