Orang Tua Hebat, Teladan Belajar Nomor Satu

Orang Tua Hebat, Teladan Belajar Nomor Satu

Created by Misbahul Munir
Halaman 1
Bab 1: Pengantar - Kok Aku Dulu Nggak Gini Ya?

# Bab 1: Pengantar - Kok Aku Dulu Nggak Gini Ya? Pernahkah sesekali, saat melihat tingkah polah anak, tiba-tiba terlintas di benak, "Duh, kok aku dulu nggak gini ya?" Mungkin saat anak kita dengan sabar membereskan mainannya sendiri, atau saat mereka dengan tulus berbagi camilan terakhir dengan temannya, atau bahkan saat mereka mengungkapkan perasaannya dengan jujur dan lugas. Ada rasa bangga, tentu saja. Tapi, di sela-sela kebanggaan itu, terkadang menyelinap juga sedikit rasa penasaran, atau bahkan mungkin sedikit penyesalan, tentang masa lalu kita sendiri. Mengapa dulu rasanya semua serba sulit? Mengapa kita tidak seberani, sesabar, atau sepeka mereka? Selamat datang di dunia para orang tua. Dunia yang penuh kejutan, tantangan, dan—yang terpenting—kesempatan tanpa henti untuk belajar dan tumbuh. Bukan hanya anak-anak yang belajar dari kita, tapi kita juga belajar banyak dari mereka, dan bahkan dari refleksi masa lalu kita sendiri. Buku ini hadir sebagai teman perjalanan Anda, bukan sebagai guru yang menggurui, melainkan sebagai kawan yang berbagi sudut pandang dan pengalaman. Kita akan menyelami bersama mengapa peran kita sebagai orang tua itu *super penting* melebihi sekadar memberikan nafkah atau menyekolahkan. Kita akan membahas mengapa kita, di mata anak-anak kita, adalah **teladan belajar nomor satu**. Bayangkan sejenak, kita semua pernah menjadi anak-anak. Ingatkah bagaimana dulu kita belajar mengikat tali sepatu? Apakah dari buku manual yang tebal dengan instruksi rumit, atau dari ayah atau ibu yang dengan sabar mencontohkan, jari jemari mereka bergerak perlahan sambil sesekali kita meniru? Atau bagaimana kita belajar berbicara? Apakah dengan duduk di kelas dan menghafal kamus, atau dengan menirukan setiap
Halaman 2
kata, setiap intonasi yang kita dengar dari orang-orang terdekat? Jawabannya jelas, bukan? Kita belajar dengan meniru. Kita belajar dengan melihat, merasakan, dan mengalami. Prinsip dasar ini tidak berubah, bahkan ribuan tahun setelahnya. Otak anak-anak, terutama di tahun-tahun awal kehidupannya, adalah mesin *imitasi* yang luar biasa canggih. Mereka adalah detektif ulung, pengamat yang tak kenal lelah, menyerap setiap detail dari lingkungan sekitar mereka, terutama dari orang-orang yang paling dekat dan paling mereka percayai: kita, orang tua mereka. Jadi, ketika kita berpikir bahwa anak-anak kita akan belajar nilai-nilai luhur hanya dengan kita menasihati mereka panjang lebar, kita mungkin melewatkan separuh, bahkan lebih, dari cara mereka benar-benar memahami dunia. ### Mengapa Mereka Meniru, Bukan Hanya Mendengarkan? Coba renungkan. Anak-anak kita hidup di dunia yang serba visual dan pengalaman. Nasihat, sekuat apa pun kata-katanya, seringkali terasa abstrak bagi pikiran mereka yang masih berkembang. Tapi, ketika mereka *melihat* kita melakukan sesuatu, ketika mereka *menyaksikan* bagaimana kita bereaksi terhadap suatu situasi, itu menjadi data konkret. Itu menjadi "tutorial" langsung yang jauh lebih mudah dicerna dan ditiru daripada sekadar "aturan" yang mereka dengar. Misalnya, kita selalu berteriak, "Jangan main gadget terus!" sambil jari-jemari kita sibuk menggulirkan layar smartphone. Atau kita mengajarkan pentingnya berbagi, padahal di meja makan kita sendiri seringkali mendominasi porsi paling enak. Atau kita menekankan pentingnya kejujuran, tapi kadang tergelincir berbohong kecil untuk menghindari konflik atau memperlancar urusan. Anak-anak kita tidak akan mengabaikan kontradiksi itu. Mereka mencatatnya. Dan seringkali, apa yang mereka lihat akan memiliki
Halaman 3
bobot yang jauh lebih berat daripada apa yang mereka dengar. Ini bukan untuk membuat kita merasa bersalah, jauh dari itu. Ini justru untuk menyadarkan kita akan kekuatan luar biasa yang kita miliki. Kita adalah sutradara utama dalam film kehidupan anak-anak kita, dan mereka adalah aktor yang sangat jeli mengamati setiap gestur dan dialog kita. Mereka meniru cara kita menghadapi kekecewaan, cara kita merayakan keberhasilan, cara kita berbicara dengan pasangan, cara kita memperlakukan orang lain, bahkan cara kita merawat diri sendiri. Kita adalah "Google Maps" yang mengarahkan mereka pada nilai-nilai dan kebiasaan yang akan membentuk karakter mereka di masa depan. Kita adalah *template* awal bagi identitas mereka. ### Dari Refleksi Menjadi Aksi Perasaan "Kok aku dulu nggak gini ya?" itu, sebenarnya adalah sebuah hadiah. Itu adalah momen refleksi yang berharga. Itu adalah pengakuan bahwa mungkin ada hal-hal yang dulu kita inginkan dari orang tua kita, atau hal-hal yang kita sadari sekarang bisa dilakukan dengan lebih baik. Dan kabar baiknya? Kita punya kesempatan itu sekarang. Kita punya kesempatan untuk menjadi orang tua yang *sadar*, orang tua yang dengan sengaja memilih untuk menjadi teladan, bukan hanya sekadar pemberi instruksi. Mungkin dulu orang tua kita belum punya seabrek buku parenting seperti sekarang. Mungkin mereka berjuang dengan bekal pengalaman yang terbatas, dengan tuntutan hidup yang berbeda, dan dengan pemahaman psikologi anak yang belum semaju hari ini. Mereka melakukan yang terbaik yang mereka tahu, dan itu patut kita hargai. Namun, kita di era ini, memiliki akses informasi yang melimpah. Kita memiliki kesempatan untuk tidak hanya mengulang pola yang ada, tapi juga untuk menciptakan pola baru yang lebih memberdayakan. Buku ini akan mengajak kita
Kembali ke daftar buku