PULANG

PULANG

Created by Bekti Nuryati
Halaman 1
Merajut Kembali Kisah Pulangmu: Sebuah Pengantar Hati

# Merajut Kembali Kisah Pulangmu: Sebuah Pengantar Hati Pulang. Sebuah kata yang begitu akrab, bukan? Begitu sering kita ucapkan, begitu sering kita rindukan. Di benak kita, kata "pulang" mungkin segera membangkitkan gambaran pintu rumah yang terbuka, aroma masakan ibu yang hangat, pelukan erat dari orang-orang tersayang, atau mungkin hanya sekadar sofa empuk tempat kita bisa merebahkan lelah setelah seharian berpacu dengan dunia. Pulang adalah destinasi fisik, akhir dari sebuah perjalanan, titik istirahat. Namun, bagaimana jika saya bisikkan sebuah rahasia, sebuah perspektif lain yang mungkin belum pernah Anda pertimbangkan secara mendalam? Bahwa *pulang* itu jauh lebih dari sekadar kembali ke sebuah bangunan dengan atap dan dinding. Pulang, sejatinya, adalah sebuah perjalanan hati dan pikiran. Sebuah pencarian akan tempat teraman, bukan di peta, melainkan di dalam diri sendiri. Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang kadang terasa bagai roller coaster tanpa henti—karier yang menuntut, tuntutan peran ganda, notifikasi media sosial yang tak putus, hingga bayangan ekspektasi yang tinggi—pernahkah Anda merasa bahwa yang paling Anda butuhkan justru adalah sebuah "rumah" yang tak lekang oleh waktu, tak tergoyahkan oleh badai? Sebuah tempat di mana Anda bisa bernapas lega, menjadi diri sendiri seutuhnya, tanpa topeng, tanpa beban? Nah, itulah *pulang* yang sesungguhnya akan kita gali bersama dalam bab ini. Mari kita memulai perjalanan kecil ini, merangkai kembali benang-benang kisah pulang yang mungkin telah lama terurai. ### Pulang Itu Bukan Cuma ke Rumah, Tapi ke Diri Sendiri Juga, Lho! Coba bayangkan sejenak. Setelah seharian penuh bergelut dengan *deadline* pekerjaan, macetnya jalanan, drama di grup WhatsApp, atau
Halaman 2
mungkin tumpukan piring kotor yang menanti, Anda akhirnya tiba di rumah. Pintu terbuka, dan Anda melangkah masuk. Apakah seketika itu juga semua beban pikiran Anda lenyap? Apakah hati Anda langsung terasa ringan, damai, dan utuh? Atau justru, kadang kala, meski raga Anda sudah berada di rumah, pikiran Anda masih melayang ke mana-mana? Masih sibuk memikirkan komentar rekan kerja, tagihan yang belum dibayar, atau sekadar *scroll* Instagram mencari "inspirasi" yang justru seringkali memicu rasa *insecure*? Di sinilah letak perbedaan krusialnya. Pulang ke rumah fisik adalah hal yang kita lakukan setiap hari. Tapi pulang ke diri sendiri, itu adalah sebuah seni, sebuah kebutuhan primer yang seringkali kita lupakan. Seperti halnya ponsel yang butuh diisi daya setelah seharian dipakai, jiwa dan raga kita pun butuh "pulang" ke inti diri untuk diisi ulang. Untuk mereset, untuk merangkul kembali siapa kita di balik semua peran yang kita mainkan. Kita begitu gigih memenuhi ekspektasi orang lain, mengejar target, berusaha terlihat "sempurna" di mata dunia. Tapi pernahkah kita meluangkan waktu sejenak, bertanya pada diri sendiri, "Hai, aku baik-baik saja, kan? Apa yang sebenarnya aku butuhkan saat ini?" Pulang ke diri sendiri berarti kembali pada *esensi* Anda. Kembali pada suara hati yang kadang teredam oleh kebisingan dunia luar. Ia berarti mengakui bahwa di balik semua label—seorang ibu, istri, manajer, anak, teman—ada seorang *Anda* yang unik, yang punya kebutuhan, impian, dan bahkan ketakutan yang valid. Ini bukan tentang menjadi egois, melainkan tentang mengisi cangkir Anda sendiri terlebih dahulu agar Anda punya sesuatu untuk dibagikan pada dunia. Jadi, mari kita sepakati: pulang bukan hanya tentang kembali ke alamat tertentu, tapi juga tentang menemukan kembali alamat
Halaman 3
hati Anda sendiri, dan bersedia singgah di sana. ### Jalan Pulang yang Berliku: Kok Rasanya Berat Banget, Ya? Jika konsep "pulang ke diri sendiri" ini terdengar begitu indah, lantas mengapa rasanya begitu sulit untuk dilakukan? Kenapa jalan pulang ke pelukan hati sendiri kadang terasa lebih berliku dan menantang daripada perjalanan lintas kota? Oh, Anda tidak sendiri, sahabat. Perasaan berat itu adalah hal yang sangat manusiawi. Mengapa demikian? Mari kita akui, hidup ini bukan sekadar garis lurus. Jalan pulang ke diri sendiri seringkali diwarnai oleh kerikil-kerikil masa lalu, bebatuan ekspektasi sosial yang memberatkan, bahkan lubang-lubang ketakutan dan keraguan yang kita ciptakan sendiri. Mungkin kita punya luka lama yang belum sembuh, memori pahit yang enggan kita sentuh. Atau mungkin, kita terlalu sibuk membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis—membandingkan pencapaian kita dengan teman di LinkedIn, penampilan kita dengan selebgram, atau *parenting style* kita dengan para *mommy blogger* yang seolah selalu sempurna. Tekanan untuk selalu menjadi "baik-baik saja" atau "kuat" juga seringkali menjadi penghalang terbesar. Kita dilatih untuk menahan air mata, menyembunyikan kerapuhan, dan selalu menampilkan versi diri yang paling tangguh. Padahal, justru di balik topeng itulah, kepingan diri kita kadang tercecer dan butuh dirangkai ulang. Proses mengenali dan mengakui kerapuhan ini bisa terasa sangat berat, bahkan menakutkan. Rasanya seperti mencoba membersihkan kamar yang sangat berantakan; di awal, mungkin akan terlihat lebih kacau dari sebelumnya karena semua barang harus dikeluarkan dan dipilah. Tapi percayalah, kekacauan sementara itu adalah bagian dari proses menuju keteraturan yang lebih mendalam. Belum lagi ada suara-suara sumbang, baik dari
Kembali ke daftar buku