Halaman 1
Bab 1: Ayah yang pemarah dan cuek
**Pernahkah Anda melihatnya,** *atau bahkan mu*ngkin mengalaminya sendiri? Momen ketika wajah seorang pria, seorang ayah, tiba-tiba saja ditekuk, rautnya masam seperti jeruk nipis, dan aura di sekitarnya langsung berubah keruh. Kita menyebutnya "muka bete", dan seringkali, pemicunya terasa begitu sepele, bahkan tidak jelas. Anak-anak hanya berisik sedikit, istri bertanya hal remeh, atau mungkin sekadar teh yang disajikan kurang manis. *Boom!* Langsung meledak. Atau paling tidak, memancarkan gelombang ketidaknyamanan yang pekat. Kita para pria, entah kenapa, sering punya kecenderungan untuk menyimpan gunung es di bawah permukaan emosi kita. Yang terlihat hanya puncaknya yang dingin dan runcing: si muka bete, si amarah yang cepat tersulut. Padahal, jauh di dalam sana, tersembunyi gumpalan emosi, tekanan, dan ketidaknyamanan yang jauh lebih besar. Kemarahan itu, kawan, seringkali hanyalah *sinyal* dari sesuatu yang lain. Ia adalah perisai, penarik perhatian, atau bahkan pelarian dari perasaan yang lebih sulit untuk diakui, apalagi diungkapkan. Coba kita gali sedikit, apa saja sebenarnya yang sering menjadi sumbu pendek tersembunyi di balik raut muka masam itu? Bukan hal yang melulu dramatis, justru yang sering luput dari radar kita. Satu yang paling umum dan sering menekan bahu kita adalah *beban pekerjaan dan tuntutan finansial*. Setiap hari, Anda berpacu dengan waktu, target, atasan yang menuntut, atau klien yang rewel. Anda tahu persis, setiap rupiah yang masuk ke rekening adalah harapan untuk keluarga, cicilan rumah, biaya sekolah anak, atau mungkin sekadar makan malam yang layak. Tekanan untuk menjadi tulang punggung yang kokoh itu *berat*. Ia seperti *treadmill* yang tak ada habisnya, dan Anda tidak boleh berhenti. Ketika pulang ke
Halaman 2
rumah, energi sudah terkuras, pikiran masih berkelana di tumpukan pekerjaan yang belum usai. Lalu, tiba-tiba anak menumpahkan susu, atau istri mengeluh karena keran bocor. Rasanya seperti ada *trigger* kecil yang seketika membuat semua penat itu tumpah ruah dalam bentuk kemarahan yang tidak proporsional. Bukan karena susu yang tumpah, tapi karena Anda sudah terlalu lelah berlari di *treadmill* seharian. Kemudian, ada juga *kurangnya tidur dan kelelahan fisik*. Ini mungkin terdengar klise, tapi efeknya luar biasa. Apalagi bagi Anda yang baru punya anak kecil, atau punya tuntutan kerja yang mengharuskan begadang. Tidur empat atau lima jam rasanya sudah jadi kemewahan. Otak kita seperti ponsel yang baterainya sudah merah menyala, tapi tetap dipaksa kerja keras untuk membuka banyak aplikasi. Tentu saja, ia akan *lemot* dan mudah *hang*. Ketika tubuh dan pikiran kita sudah di ambang batas, hal sekecil apa pun bisa terasa seperti batu besar yang dilempar. Coba perhatikan, bukankah seringkali kemarahan itu muncul justru di penghujung hari yang panjang, saat Anda sudah tidak bisa lagi menoleransi kebisingan atau keramaian? Selain itu, *ekspektasi yang tidak terpenuhi*, baik dari diri sendiri maupun orang lain, juga bisa jadi pemicu tersembunyi. Kita sering membangun skenario ideal dalam kepala kita. Harapan tentang rumah yang rapi, anak-anak yang patuh, istri yang selalu pengertian, atau mungkin rencana akhir pekan yang sempurna. Begitu ada satu *kepingan* saja yang tidak sesuai, misalnya macet parah di jalan, anak tiba-tiba rewel di supermarket, atau proyek yang Anda kerjakan ternyata punya *bug* aneh, seketika perasaan kecewa dan frustrasi itu muncul. Tapi karena kita diajarkan untuk "kuat" dan tidak boleh "cengeng", frustrasi itu seringkali berwujud amarah. Rasanya seperti
Halaman 3
*menara Jenga* yang sudah disusun rapi, tiba-tiba ada satu balok kecil yang goyah, dan rasanya seluruh menara itu akan runtuh. Pernah merasa *tidak punya kontrol* atas situasi? Ini juga sangat memicu. Kita sebagai pria, dibentuk untuk menjadi pemimpin, pelindung, pengendali. Tapi kenyataannya, banyak hal dalam hidup ini di luar kendali kita. Anak tantrum tidak bisa ditenangkan, atasan tiba-tiba mengubah semua rencana kerja, atau bahkan hanya sekadar antrean panjang di bank. Perasaan tidak berdaya ini bisa sangat mengganggu. Daripada mengakui rasa frustrasi karena tidak bisa mengontrol, lebih mudah bagi sebagian kita untuk melampiaskannya sebagai amarah. Ini semacam upaya putus asa untuk menegaskan kembali "kekuatan" yang terasa hilang. Dan yang paling dalam, terkadang ada *luka masa lalu yang belum sembuh* atau pola asuh yang tanpa sadar kita tiru. Mungkin Anda dulu tumbuh di lingkungan yang ayahnya sering marah-marah, atau Anda sendiri merasa tidak didengarkan saat kecil. Luka-luka ini, yang mungkin sudah terkubur dalam-dalam, bisa tiba-tiba muncul ke permukaan saat ada situasi pemicu yang mirip. Kemarahan Anda bisa jadi bukan hanya tentang kejadian saat ini, tapi juga resonansi dari rasa sakit yang tak terungkap dari puluhan tahun silam. Ini adalah bagian yang paling sulit diakui, namun seringkali paling signifikan. Seringkali juga, *kesulitan komunikasi dan merasa tidak dipahami* menjadi biang keladi. Anda mungkin punya banyak hal di pikiran, banyak beban di hati, tapi sulit sekali mengungkapkannya. Takut dibilang lemah, takut salah bicara, atau merasa toh tidak akan ada yang mengerti. Akhirnya, alih-alih bicara, kita memilih mendiamkan atau bahkan menggerutu. Ketika istri mencoba bertanya atau anak-anak ingin dekat, rasanya seperti mereka "mengganggu" tembok